![]() |
Jarman Al Kindy (Sekbid Pengembangan Anggota HIPMOSRA) |
Mirisnya
generasi hari ini, sangat berbeda dengan generasi-generasi masa dulu. Letak perbedaan yang sangat
mecolok yakni terdapat pada fakta yang menunjukan bahwa generasi masa dulu
sangat menjunjung tinggi nilai pendidikan dan sosial. Sehingga tak mengherankan
bila, banyak generasi-generasi masa
silam yang menempuh pendidikan di dalam negeri maupun di luar negeri, dan kemudian menjadi emas buat bangsanya
sendiri. Lihatlah Bung Hatta yang berselancar pendidikan di Belanda, dan pasca
pendidikan beliau bersama Bung Karno berhasil menjadi sang dwi tunggal
kemerdekaan. Hal itu dikarenakan faktor menjunjung tinggi nilai pendidikan dan
sosial yang baik. Alih-alih mengatakan jikalau saja kita melihat SDM, pada masa
dulu sangatlah minim di bandingkan masa kini. Realita yang tak terbantahkan
bahwa di masa dulu yang menempuh pendidikan hanyalah kalangan bangsawan atau
turunan orang yang mampu. Sedangkan mereka yang terkategori golongan-golongan
orang yang tidak mampu dan terklasifikasi dalam kelompok ekonomi lemah sulit
memperoleh pendidikan. Berbagai ikhtiar dilakukan untuk menyekolahkan
anak-anaknya, agar kelak menjadi cerah di masa depannya. Fakta lain menunjukan
bahwa fasilitas dimasa itu, berbeda jauh dengan sekarang. Tapi orang-orang dulu
dengan semangat yang membara akan pendidikan, meskipun kurang fasilitas yang
memadai, mereka tetap semangat dan tidak turun semangatnya walaupn sedikit, bak
obor yang selalu nyala meski diterpa badai sekalipun.
Tapi zaman sekarang
sangat berbeda jauh di bandingkan masa-masa silam. Adanya Teknologi yang
mempercepat untuk segala hal, baik perjalanan, komunikasi, pembangunan dan lain
sebagainya. Hal ini yang membuat generasi sekarang disibukkan dan terlena
dengan maju kembangnya teknologi. Sehingga boleh dikatakan bahwa tekhnologi
berhasil membuat manja para generasi hari ini. Teknologi mempunyai banyak
dampak positif dan pula dampak negatif. Dampak negatif ini yang lebih cenderung
melibatkan generasi-generasi muda terlena dan kurang beradab, serta miskin etika
di lingkungan social kemasyarakatan. Harapannya, perkembangan teknologi ini
akan menjadikan generasi pandai dalam proses belajar. Karena ketika kita disibukkan
dengan tugas sekolah, kita dengan mudah mengakses berbagai situs ilmu pengetahuan
di internet untuk dijadikan bahan
rujukan atau referensi buat tugas-tugas sekolah. Namun fakta menunjukan
berbanding terbalik, minat baca yang diperoleh sangatlah minim, bahkan fakta
minat baca Indonesia pada saat ini hanya 0,01 %. Berarti diantara 1000 orang
hanya 1 orang yang mempunyai minat baca tinggi. Kita terlalu disibukkan dengan berbagai
aktivitas medsos misalnya Facebook, twitter, bbm, WA chat, Instagram,
Line dan lain-lain. Era digital, Jika tidak difungsikan dengan baik berupa medsos
tersebut, maka itulah Yang menjadi faktor penghambat buat minat baca buku.
Inilah yang kita namakan bencana cyber atau bencana tekhnologi. Kita lebih
mementingkan membaca status facebook yang tidak jelas dan mengupload foto-foto
selfi tak bermanfaat daripada membaca buku atau berita-berita penting. Naudzubillah!
Padahal, Badan Pusat
Statistik (BPS) telah memprediksikan bahwa Indonesia akan mendapatkan Bonus
Demografi dalam rentang tahun 2020-2030. Bonus demografi yaitu hadiah yang
Tuhan berikan dengan jumlah angka produktif (usia 15-64 tahun) lebih tinggi dibandingkan
dengan angka non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun keatas). Dalam rentang
tahun 2020-2030 menurut berbagai riset dan statistik, Indonesia akan
mendapatkan keuntungan pertumbuhan usia produktif sebesar 70% dan non produktif
hanya 30%. Kalau dihitung dari populasi perkembangan manusia angka produktif
sangatlah tinggi.
Bonus demografi
atau Peluang emas ini jika tidak difungsikan dengan baik, maka akan menimbulkan
musibah Demografi. Itulah mengapa pemerintah Indonesia mempersiapkan banyak
beasiswa yang diperuntukkan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Salah
satu tujuannya yaitu meningkatkan SDM Indoensia yang berkualitas dalam
menghadapi peluang bonus demografi di tahun 2020-2030 mendatang. Jika ini bisa
termanfaatkan dengan baik, maka kita melihat negara kita akan running untuk
sejajar dengan negara-negara maju, dalam sektor pendidikan dan SDM. Sangat disayangkan
jika hari ini, kita tidak mempersiapkan diri untuk peluang bonus demografi.
Belum lagi hari ini kita sedang diperhadapkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),
yaitu dengan membentuk perdagangan bebas atau free trade antara negara-nerala
lain. Jika kita tak mampu mengimbangi arus ini, maka kedepan kita akan melihat
fakta yang sangat memilukan untuk bangsa Indonesia. Generasi Indonesia menjadi
menjadi kuli di negeri sendiri, demikian kata Bapak Proklamator kita Bung Karno.
Tetapi jika generasi mulai sekarang mempersiapkan dengan baik. Di masa
mendatang,negara Indonesia akan menjadi negara yang patut diperhitungkan di kancah
ASIA bahkan Indonesia akan tampil di panggung peradaban dunia. Amiin.
Penulis: Jarman Al Kindy
(Siswa SMKN 2 Kendari)
(Sekretaris Bidang Pegembangan Anggota HIPMMOSRA)
(Sekretaris Bidang Informasi dan Komunikasi KOMPAS)