
“INTERNALISASI NILAI-NILAI ISLAM
DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA MENUJU TERCIPTANYA GURU MATEMATIKA KHAIRA UMMAH”
Oleh
:
JUBIRMAN
( 422110016)
HARTOYO
(422110011)
MUH.
ARY ANSHORI HADI (422110025)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2012
INTERNALISASI
NILAI-NILAI ISLAM DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA
BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami kekacauan
atau ketidakrancuan kurikulum. Hal ini terlihat dengan bergantinya kurikulum
tiap beberapa tahunnya, karena terbukti tidak mampu mengembangkan pendidikan
Indonesia. Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan
tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatanspiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara. Kacaunya kurikulum ini tentu saja berawal dari
asasnya yang sekular, yang kemudianmempengaruhi penyusunan struktur kurikulum
yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan peradaban
Illahiyah dan pembentukan kepribadian taqwa. Pendidikan karakter
akhir-akhir ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari
proses pembentukan akhlak anak bangsa.
Pendidikan
yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai
yangmenguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan
tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian
peserta didik dan penguasaan tsaqâfah rabbani. Berapa banyak lulusan
pendidikan umum yang tetap saja‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya?
Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang
menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisikepribadiannya tergarap baik.
Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangansains dan
teknologi.Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan
jasa) diisi olehorang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang
yang mengerti agamaterkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama,
Depag), tidak mamputerjun di sektor modern.Jadi, pendidikan sekular memang bisa
membikin orang pandai, tapi masalah integritas kepribadian atau perilaku, tidak
ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular ituakan melahirkan insan
pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang
dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral.
Iniadalah out put umum dari sistem pendidikan sekular. Mari kita lihat contoh Negara
Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju,
kehidupan publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran
masyarakat terhadap peraturan publik tinggi.Tapi, perlu ingat bahwa agama
ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungisecara hukum tapi agama
tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak bolehdirayakan di
lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absendi
sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat
5waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak
melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi
dalam kehidupan publik kita tidak boleh melihat wajah agama.Sistem
pendidikan yang material-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah
merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara
yang juga sekular.Dalam sistem sekular, aturan-aturan, pandangan, dan
nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk
menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di
tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan
yang jauh dari nilai-nilai agama.
Keterpurukan pendidikan di Indonesia hari ini sangat
memerlukan pendidikan karakter. Dimana, pendidikan ini akan menanamkan
nilai-nilai dan etika yang baik kepada siswa, dan satu-satunya dinul yang
memiliki nilai dan etika yang baik hanyalah islam karena nilai dan etika yang
turunnya langsung dari Allah. Pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di
seluruh jenjang pendidikan dari pendidikan dasar, menengah, hingga di
pendidikan tinggi. Pendidikan karakterpun mendapatkan perhatian yang cukup
besar oleh pemerintah Indonesia hari ini. Pendidikan karakter ini juga
diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokrasi serta bertanggung jawab.”
B.
RUMUSAN MASALAH
Sesuai
dengan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut.
1. Apa
itu pendidikan karakter?
2. Bagaimana
peranan pembelajaran matematika dalam pendidikan karakter?
3. Bagaimana
menginternalisasikan nilai-nilai islam ke dalam pembelajaran matematika?
C.
TUJUAN
Sesuai dengan rumusan masalah diatas,
maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui
definisi pendidikan karakter
2. Menjelaskan
peranan pembelajaran matematika dalam pendidikan karakter
3. Menjelaskan
tentang bagaimana memasukan atau menginternalisasikan nilai-nilai islam ke
dalam pendidikan matematika/
BAB II PEMBAHASAN
A.
PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan adalah suatu upaya sadar
dan sistematis untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter
bangsa secara aktif peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya,
melakukan proses internalisasi dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian
mereka dalam bergaul di masyarakat, dan mengembangkan kehidupan bangsa yang
bermartabat. Usaha sadar ini tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta
didik berada, terutama dari lingkungan budayanya karena peserta didik hidup tak
terpisahkan dalam lingkungan dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah
budayanya.
Karakter adalah watak, tabiat,
akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil interbalisasi
berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara
pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Manusia hidup dalam lingkungan
sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu hanya dapat
dilakukan dalam lngkungan soaial budaya yang bersangkutan. Artinya pengembangan
karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam setiap proses pendidikan yang tidak
dapat dilepaskan dari lingkungan soaial budaya masyarakat.
Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan
nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki
nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut
dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang
religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.
Nilai-nilai
yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
1.
Religius 7.
Mandiri 13.Bersahabat/komunikatif
2. Jujur 8.
Demokratis 14. Cinta damai
3. Toleransi 9. Rasa ingin tahu
15. Gemar membaca
4. Disiplin 10. Semangat
kebangsaan 16. Peduli Lingkungan
5. Kerja
keras 11. Cinta
tanah air 17. Peduli
sosial
6.
Kreatif 12.
Menghargai prestasi 18.Tanggung
jawab
B.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Salah satu wadah
kegiatan yang dapat berfungsi sebagai wadah untuk menciptakan sumber daya
manusia yang bermutu tinggi adalah pendidikan, baik pendidikan jalur sekolah
maupun luar sekolah. Matematika sebagai ”Queen of Science” yang merupakan
pondasi dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah seharusnya
mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak dalam pembudayaannya. Ada 3
unsur yang menunjang keberhasilan usaha pembudayaan matematika, yaitu:
a.
Lembaga
tinggi yang menyiapkan calon tenaga guru dan mengembangkan berbagai inovasi
dalam pembelajaran matematika sekolah.
b.
Mahasiswa
pendidikan matematika sebagai calon guru matematika yang harus memperoleh bekal
yang memadai agar siap menjadi guru profesional.
c.
Guru
sebagai ujung tombak dalam setiap pelaksanaan inovasi dalam pembelajaran.
Matematika
sebagai salah satu ilmu dasar baik aspek terapan maupun aspek penalarannya,
mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ini berarti bahwa sampai pada batas tertentu matematika perlu
dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia, baik penerapannya maupun pola
pikirnya. Matematika sekolah yang merupakan bagian dari matematika yang dipilih
atas dasar kepentingan pengembangan kemampuan dan kepribadian siswa serta perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi perlu selalu dapat sejalan dengan tuntutan kepentingan siswa
menghadapi tantangan kehidupan masa depan.
Untuk keperluan
proses belajar mengajar di dalam kelas, tujuan kurikuler tersebut masih perlu
dijabarkan ke dalam tujuan institusional (SK, dan KD) Pada tahap ini, kesulitan
akan dialami terutama dalam usaha memadukan ranah afektif dan psikomotor
sehingga dewasa ini lebih diperhatikan hanya pada ranah kognitif saja. Hal ini
tentu akan mempengaruhi proses pembelajaran di kelas yang tentunya juga akan
mempengaruhi pendidikan matematika yang memuat nilai-nilai luhur.
Dengan
menyelaraskan dan memadukan tujuan pembelajaran dari ranah kognitif, afektif,
dan psikomotor, maka akan semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa
pada Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan salah satu aspek tujuan pendidikan
yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut dan membudayakan matematika di
sekolah salah satunya adalah dengan mengintegrasikan beberapa nilai-nilai
keislaman dalam pembelajaran matematika.
Pendidikan akan
melatih dan mengasah nalar manusia, sehingga dengan pendidikan maka kita akan
semakin terbuka wawasan terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Nilai
moral dari suatu materi pembelajaran adalah keyakinan dari suatu individu atau
budaya yang subjektif dan mungkin berbeda-beda bagi setiap orang dan budaya. Nilai
moral seseorang dapat berkembang dan berubah-ubah setiap saat, sedangkan nilai
moral dari suatu budaya yang terbagi atau diperlakukan sama bagi semua anggota
atau kelompok berbeda dengan kelompok
yang lainnya.
Pemilihan
bagian-bagian dari matematika untuk matematika sekolah tersebut perlu selalu
disesuaikan dengan perkembangan dan tantangan masa depan. Hal ini berarti bahwa
tujuan pendidikan matematika untuk masa depan harus memperhatikan hal-hal
berikut.
1.
Tujuan
yang bersifat formal, yaitu penataan nalar dan pembentukan kepribadian anak.
2.
Tujuan yang bersifat material yaitu penerapan
matematika serta ketrampilan matematika.
Matematika sekolah
yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan tertentu harus dengan jelas dapat
mendukung upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa
setiap materi yang akan diajarkan harus
dapat ditunjukkan aspek-aspek tertentu yang mengandung nilai dalam mendidik
siswa. Tujuan pendidikan matematika memiliki sifat formal dan material yang
berarti bahwa pendidikan matematika harus memiliki nilai didik dan nilai
praktis.
Bangsa yang unggul
adalah bangsa yang bermoral tinggi. Bangsa yang selalu memerhatikan nilai islam
dalam perkembangannya. Dengan matematika dapat meningkatkan moral bangsa. Ada
beberapa nilai didik dalam pembelajaran matematika yang berkaitan dengan
karakteristik dari matematika yang dapat diintegrasikan dengan Al Qur’an yang
diharapkan dapat mendukung tujuan pendidikan nasional dan mencapai bangsa yang
unggul, di antaranya: kesepakatan, ketaatasasan/konsistensi, deduksi, semesta.
C.
INTERNALISASI NILAI ISLAM KE
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pada perkembangan sejarah
islam, kunci keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah keagungan akhlak yang
dimilikinya (Qs.Qalam/68: 4) keteladan/uswatun hasanah bagi umatnya
(Qs.Al-Ahzab/33: 21). Hanya dalam 23 tahun ia berhasil menjalankan misinya
dalam menyempurnakan akhlak manusia (li
utammima makaarim al-akhlaq) sehingga masyarakat jahiliyah berganti menjadi
masyarakat madani. Nabi Muhammad SAW laksana al-Qur’an berjalan. Dengan
al-Qur’an itu pula ia mendidik para sahabatnya sehingga memiliki
karakter/akhlak yang begitu kuat. Sahabat-sahabat yang berkarakter berbasis
al-Qur’an tersebut menjadi modal utama dalam membangun masyarakat berperadaban
tinggi. Belajar dari keberhasilan Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan
bahwa untuk mendidik karakter manusia, terutama yang mengaku Islam sebagai
agamanya, mesti berdasarkan kepada al-Qur’an.
Pada perkembangan
pendidikan, pendidikan karakter menjadi tema hangat untuk diterapkan melalui
lembaga pendidikan formal. Bahkan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Badan
Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum telah merumuskan program
“Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” atau disingkat dengan PBKB, sejak tahun
2010 lalu. Dalam proses PBKB, secara aktif peserta didik
mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan
nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih
sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Dalam program
tersebut, terdapat 18 nilai yang dikembangkan, yaitu: religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung-jawab. Program ini patut direspon oleh masyarakat,
terutama praktisi pendidikan dan stakeholder
yang terkait. Namun, konsep PBKB masih bersifat umum sehingga masih membutuhkan
ide-ide kreatif dalam pengembangannya. Di era otonomi ini, pemerintah daerah,
termasuk sekolah, sesungguhnya memperoleh peluang yang besar untuk
mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk
mengembangkan konsep pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.
Sebagai
umat Islam yang meyakini al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, dan sebagai guru
matematika, seharusnyalah kita dapat memanfaatkan peluang ini. Sebagai guru
matematika, seyogyanya kita dapat merumuskan konsep pendidikan karakter
berbasis Al-Qur’an. Hal ini disebabkan secara teologis, mustahil seorang muslim
yang mengabaikan Al-Qur’an memiliki karakter atau akhlakul karimah sebagaimana
yang diinginkan dalam ajaran Islam itu sendiri.
Hakikat
pendidikan karakter itu sendiri adalah penanaman nilai, membutuhkan keteladanan
dan harus dibiasakan, bukan diajarkan. Jika dalam konsep PBKB
yang disusun oleh
Puskur terdapat 18 nilai,
maka dalam perspektif Al-Qur’an jauh
melebihi angka tersebut.
Namun untuk memudahkan
penanaman nilai tersebut, perlu dirumuskan secara sederhana sesuai dengan
tingkat pendidikan itu sendiri. Paling tidak nilai-nilai itu bisa dikelompokkan
dalam empat hal, yaitu:
1. nilai yang terkait dengan hablun
minallah (hubungan seorang hamba kepada Allah), seperti ketaatan,
keikhlasan, syukur, sabar, tawakal, mahabbah, dan sebagainya.
2. nilai yang terkait dengan hablun
minannas, yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam
hubungannya dengan sesama manusia, seperti tolong-menolong, empaty,
kasih-sayang, kerjasama, saling mendoakan dan memaafkan, hormat-menghormati,
dan sebagainya.
3. nilai yang berhubungan dengan hablun
minannafsi (diri sendiri), seperti: kejujuran, disiplin, amanah, mandiri,
istiqamah, keteladanan, kewibawaan, optimis, tawadhu’, dan sebagainya.
4. nilai yang berhubungan
dengan hablun minal-‘alam (hubungan
dengan alam sekitar), seperti: keseimbangan, kepekaan, kepeduliaan, kelestarian,
kebersihan, keindahan, dan sebagainya.
Nilai-nilai
tersebut mesti dikembangkan lebih lanjut dengan merujuk pada ayat-ayat
al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an itu sesungguhnya
memiliki makna yang lebih luas, kompleks dan aplikatif jika dibandingkan dengan
nilai-nilai yang muncul dari hasil pikiran manusia. Misalnya, nilai istiqamah
jauh lebih luas dari nilai komitmen dan konsisten. Begitu pula makna ikhlas
jauh lebih mendalam dibandingkan dengan makna rela berkorban. Bahkan istilah akhlak
pun jauh lebih kompleks dibanding dengan istilah moral, etika, atau karakter.
Pada
kegiatan intrakurikuler, nilai-nilai tersebut harus dirumuskan dalam bentuk
“Indikator Penanaman Nilai” oleh guru dalam rencana pembelajarannya untuk
diintegrasikan dengan materi tiap mata pelajaran. Dengan begitu tak satu pun
materi yang bebas dari nilai. Selain itu, proses pembelajarannya pun sebaiknya
diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini,
ayat-ayat al-Qur’an akan
menjadi basis terhadap suatu ilmu sehingga siswa tidak saja memperoleh
pengetahuan, tetapi diharapkan memperoleh keberkahan dari ilmu itu sendiri.
Penanaman
nilai pada budaya sekolah harus dirumuskan dalam bentuk beberapa aturan
sehingga terjadi proses pembiasaan dan pembudayaan. Munculnya Buda’I (Budaya
Akademik Islami) merupakan salah satu cara untuk mengatasi keterpurukan
pendidikan Indonesia. Seperti tadarus di awal pembelajaran, setiap guru membuka
pelajaran dengan membaca surat-surat pendek, membudayakan ucapan salam,
mengedepankan keteladanan, malu melanggar peraturan, menjalin interaksi dengan
kasih sayang, menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam hal ini, pemberian
reward (penghargaan) lebih dikedepankan dari pada punishment (hukuman). Seingga akan muncul Buda’I Award suatu penghargaan untuk orang-orang yang menjalankan
budaya akademik islami secara utuh dan menyempurna.
Pembelajaran matematika tidak terlepas dari
ilmu-ilmu yang lain. Pembelajaran matematika juga dapat diintegrasikan dengan
pendidikan agama, khususnya agama Islam. Pembelajaran matematika berbasiskan
keislaman dapat digunakan untuk memperkuat karakter bangsa.
Jadi, dengan menerapkan nilai-nilai islam atau
karakter islami ataupula Budaya Akademik Islami maka tidak mengherankanlagi
akan muncul dan tercipta dengan sendirinya “generasi
matematika khaira ummah”. Suatu generasi yang professional, generasi
matematika yang mampu tangguh dalam bersaing secara global berdasarkan
nilai-nilai keislaman, suatu generasi yang juga diharapkan oleh Allah dalam
firmannya Surah Ali Imran Ayat 110.
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan makalah diatas, maka
kami dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang
mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga
mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan
nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan
warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.
Bangsa yang unggul
adalah bangsa yang bermoral tinggi. Bangsa yang selalu memerhatikan nilai islam
dalam perkembangannya. Dengan matematika dapat meningkatkan moral bangsa. Ada
beberapa nilai didik dalam pembelajaran matematika yang berkaitan dengan
karakteristik dari matematika yang dapat diintegrasikan dengan Al Qur’an yang
diharapkan dapat mendukung tujuan pendidikan nasional dan mencapai bangsa yang
unggul, di antaranya: kesepakatan, ketaatasasan/konsistensi, deduksi, semesta.
Jadi, dengan menerapkan nilai-nilai islam atau
karakter islami ataupula Budaya Akademik Islami maka tidak mengherankanlagi
akan muncul dan tercipta dengan sendirinya “generasi
matematika khaira ummah”. Suatu generasi yang professional, generasi
matematika yang mampu tangguh dalam bersaing secara global berdasarkan
nilai-nilai keislaman, suatu generasi yang juga diharapkan oleh Allah dalam
firmannya Surah Ali Imran Ayat 110.
B.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan
sebagai berikut:
- perlu ditingkatkan profesionalitas guru matematika agar dapat mengembangkan karakter siswa
- perlu dibina keteladanan pada guru matematika sesuai dengan keislaman untuk mengembangkan karakter siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Bell,
Frederick H. 1981. Teaching and Learning mathematics (in Secondary Schools).
Wm. C. Brown Company. Dubuque. Iowa
Soedjadi, R.
1995. Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama sebagai wahana pendidikan
dan pembudayaan penalaran. Surabaya
__________. 2003. UU no 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Deprtemen Pendidikan . Jakarta
__________. 2006. Kerangka Dasar Keilmuan dan
Pengembangan Kerikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pokja Akademik.
__________. 2006. Kurikulum KTSP.
Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta
__________.
2009. Al Qur’an. Departemen Agama RI
_____________.
Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa. Balitbang Kemendiknas. 2010. Jakarta. www.jubirman.blogspot.com