Minggu, 03 Juni 2012

Background of Pesantren Ramadhan


BACKGROUND OF PESANTREN RAMADHAN
Dinamika zaman selalu menyuguhkan sajian hangat, membuat penasaran, kecanduan, dan tak sedikit pandangan tak sedap jika tidak mengikuti arus berputarnya, terlebih bagi kaum “remaja” yang notabene masih “labil” di tengah pencarian jati dirinya. Berbagai slogan pun muncul di kalangan remaja, seperti “tidak gaul jika tidak mengikuti arus (globalisasi)”, ataupun “tidak modern kalau gaptek” sayangnya mereka hanya berpatokan pada bangsa lain (Barat), hingga budaya sendiri rela digadaikannya. Hal ini pula terjadi di Desa Mosolo, Sinar Mas, da Sinaulu Jaya yang selalu mementingkan kehidupan duniawi daripada kepentingan ukhrawinya. Remaja MOSOLO (termasuk Sinar Mas dan Sinaulu Jaya) hari ini telah berbeda dengan Remaja Mosolo di 20 tahun yang lalu. Pada 20 tahun yang lalu, ketika para pelajar ataupun mahasiswa yang hendak kembali ke kampung halamannya mereka selalunya membawa perubahan bagi daerahnya, mengharumkan nama daerahnya, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang didapatkannya dari tempatnya belajar. Ilmu tidak hanya disandarkan pada kesombongan semata tetapi ilmu disandarkan kepada keimanan yang kukuh sehingga mampu menghasilkan pelajar atau mahasiswa yang kian meninggi ilmunya, kian menunduk pada orang yang lebih tua darinya (rakyat)
Dengan munculnya penemuan-penemuan baru seperti TV, Handphone ataupun sejenisnya membuat remaja MOSOLO lupa akan jati dirinya, lupa akan perannya sebagai generasi penerus MOSOLO yang akan membawanya menuju ke perubahan, dan bahkan lupa akan tujuannya diciptkan kedunia. Merupakan sesuatu yang seharusnya menjadi aktivitas yang paling diutamakan, kini dinomorduakan. Hal ini sebagaimana dilukiskan allah SWT dalam firmannya yang artinya:
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. (Q.S. Az-Zariyat:56)”.
Munculnya beberapa penemuan baru itulah yang mengakibatkannya sang generasi Mosolo mengalami kemunduran dari zaman ke zaman. Padahal, hari ini Mosolo adalah salah satu daerah dipulau Wawonii yang mengalami kemajuan paling besar di dunia pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pelajar dan Mahasiswa Mosolo yang dikirim keluar pulau Wawonii menuju ke Kota Kendari atau Kota Bau-Bau untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Bahkan tidak sedikit mahasiswa Mosolo yang melanjutkan perkuliahannya di luar daerah Sulawesi Tenggara seperti di Ternate, Makasar, bahkan ke Pulau Jawa yang notabenenya adalah Pulau yang konon katanya pendidikannya  dianggap lebih berkompeten daripada Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dan daerah-daerah timur lainnya.
Oleh karena itulah kami sebagai siswa yang paling besar, paling tua, atau dikenal dengan nama MAHA siswa berusaha untuk mengubah pola pikir para remaja Mosolo yang saat ini telah dilenakan oleh kemajuan zaman yang makin men”Teknologi” dan berusaha untuk mematikan dan bahkan memusnahkan peradaban islam sebagai peradaban terbesar didunia. Hal ini ditandai dengan kemajuan islam yang mampu menguasai 2/3 dunia dan munculnya beberapa cendkiawan muslim seperti Ibnu Sina dengan kedokterannya, Al Khwarimi dengan Matematikanya, dan Al battani dengan astronominya, dan masih banyak lagi cendekiawan-cendekiawan muslim lainnya. Maka kami melakukan pertemuan dengan seluruh pelajar dan mahasiswa yang tergabung di HIPMOSSJA (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Mosolo dan Sinaulu jaya) untuk memikirkn terkait dengan permasalahan ini. Sehingga disimpulkan akan diadakannya PESANTREN RAMADHAN, sebuah kegiatan yang akan memberikan pemahaman kepada sang generasi pelanjut terhadap sikapnya yang telah terlena dengan kemajuan zaman yang dihasilkan oleh pemikiran-pemikiran kaum Kapitalis Sekulerisme, sebuah paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan, dan insya allah akan menjadikan Mosolo sebagai center of the exemplary Wawonii, pusat keteladanan wawonii.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar