Jumat, 16 November 2012

Guru Adalah Mediator Munculnya Peradaban




Allah, malaikat, serta semua makhluk penghuni langit dan bumi, bershalawat mendoakan para pengajar kebaikan, yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai guru, dosen, ustadz dan profesi pengajar lainnya yang dalam hidupnya menebarkan kebaikan, dengan memberikan pengajaran kepada manusia akan ilmu kehidupan. Dalam sebuah hadist syarif Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam bersabda, “ Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan hiu, mengucapkan doa kepada pengajar kebaikan terhadap manusia. “ (Sunan At-Tirmidzi).
 
Profesi yang mulia bahkan mungkin yang paling termulia didunia adalah menjadi pengajar kebaikan (lebih mudahnya sebut saja guru). Jika kita saksikan ada pejabat yang sukses, ataupun insinyur, dokter, pengusaha besar bahkan pemimpin di negeri ini tentunya tidak akan terlepas dari sentuhan ketulusan ilmu yang diberikan oleh seorang guru. Karena itu ilmu yang diberikan oleh guru akan memberikan pengaruh yang teramat besar dalam kehidupan manusia, menjadi bagian dari ibadah jariyah yang senantiasa mengalir kebaikannya baik didunia maupun akhirat.
Bukankah berprofesi sebagai seorang guru adalah profesi yang mulia.? Mengapa tidak. Ia selalu mengajrkan ilmunya dan menyebarluaskanya. Walaupun dia telah tiada tetapi ilmu yang ia alirkan ke muridnya akan tersebar luas. Sesuai dengan sabda rasulullah dalam hadistnya
“Diantara amal dan kebaikan yang menyusul seseorang sesudah matinya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan, ….” (HR Ibnu Majah, Baihaqi dan ibnu Khuzaimah).
Profesi mulianya seorang guru adalah profesinya Nabi dan Rasul. Hakikat diutusnya para nabi dan rasul Allah adalah untuk memberikan pengajaran kepada manusia, dengan ilmu yang bersumber pada kitabullah, dan juga hikmah kehidupan dari teladan yang dicontohkan dari sunnah-sunnah(kebiasaan). Keilmuan yang mereka sebarkan adalah kabar gembira yang akan memberikan harapan dan optimisme, serta peringatan untuk mengingatkan mereka senantiasa menjaga jalan kehidupan di jalan yang lurus.   
Konsep pengajaran guru sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah sebagai nabi akhirul zaman adalah tarbiyah (pendidikan) dan tazkiyah (penyucian jiwa). Dengan munculnya ilmu pengetahuan, pendidikan akan membangun cakrawala berfikir ilmiah dan bernalar, yang membangkitkan potensi intelektual dan emosional. Di masa kejayaan dan keemasan peradaban islam telah membuktikan hal itu, dengan pijakan keilmuan telah mengarahkan manusia untuk berfikir kritis dan terukur pada obyek-obyek yang realistis, yang telah menggantikan keyakinan-keyakinan klenik dan mistis ataupun filsafat-filsafat helinistik yang mengambang. Kegemilangan keilmuan islam telah mampu memberikan sumbangsih besar penemuan-penemuan mendasar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Munculnya Ibnu sina sebagai pakar kedokteran, Al Khawarizmi sebagai penemu angka nol, Al Farabi yang dikenal sebagai ahli filosof, Al Kindi sebagai ahli perbintangan, juga salahuddin Al Ayubi ahli strategi perang, kesemua itu muncul karena adanya seorang guru yang mulia. Guru yang tiap harinya memasukan cairan motivasi kedalam relung hati dan pikirannya. Guru tak pernah lelah dalam membangun sebuah peradaban.
Ternyata mulianya seorang guru tidak hanya dirasakan oleh kaum muslimin. Tetapi nonmuslim pula merasakannya. Ketika itu bom atom meluluh-lantakkan Hiroshima-Nagasaki pada awal Agustus 1945, apa yang dilakukan seorang kaisar Jepang Hirohito. Beliau tidak menanyakan berapa para pengusaha yang wafat, atau berapa para menteri Negara bahkan anggota DPR yang wafat akibat jatuhnya bom itu. Kaisar Jepang memerintahkan agar secepatnya mendata para guru yang selamat. Ini menyiratkan bahwa pendidikan menjadi motor kebangkitan Jepang sebagai salah satu negara super power dunia.
Guru jauh lebih baik daripada dogma. Karena dia seorang penuntun harapan sekaligus pendengar,”demikian kata sejarawan Edward Bulwer Lytton. Ungkapan hampir dua abad silam itu memberi pesan bahwa guru mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter dan nasib kemajuan suatu bangsa.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar