Rabu, 03 April 2013

Figur Kepemimpinan Ideal Ditengah Krisisnya Kepemimpinan Nasional


Krisis kepemimpinan di Indonesia sekarang telah merata, tidak hanya menyangkut lembaga kepresidenan, tetapi nyaris menyentuh hampir semua lembaga negara, bahkan juga lembaga-lembaga masyarakat yang relatif otonom terhadap Negara. Indikasinya, kita kesulitan menemukan sosok pemimpin yang berkarakter ideal yaitu efektif, dapat dipercaya, dan bisa menjadi sosok yang patut diteladani.  Hingga saat ini, belum terlihat kepemimpinan di Indonesia yang mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia dari beragam krisis yang ada, mulai dari krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial, krisis budaya hingga ke krisis agama. Akhir-akhir ini, Indonesia dihebohkan oleh dua pemimpin yang tak bermoral dan tidak patut untuk diteladani. Pertama berita tentang Kasus Bupati Garut, Aceng Fikri (40) yang telah menikah siri dengan gadis bernama Fany Octora (18). Parahnya, pernikahan yang terjadi pada 14-17 Juli 2012 itu hanya bertahan selama empat hari karena Aceng menceraikan Fany melalui pesan singkat yang beralasankan karena Fany sudah tidak perawan lagi dan memiliki masalah dengan bau mulut. Dan kedua adalah terkait Kasus Suap Impor Sapi oleh mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait kasus suap daging impor sapi. Apa hal inikah yang patut dilakukan oleh seorang pemimpin yang notabene sebagai teladan untuk rakyatnya dengan menikahi gadis, lalu menceraikannya dengan alasan tidak logis. Ataukah pemimpin yang terkait kasus suap daging yang ternyata dari partai berlabelkan islam (PKS).

Posisi pemimpin atau jabatan publik kerap diincar oleh para calon pemimpin yang dalam kampanyenya selalu mengeluarkan janji bohong untuk menyejahterkan rakyatnya. Hal ini mereka jadikan  sebagai batu loncatan untuk kaya dan berkuasa. Walhasil, lembaga publik yang potensial itu dijadikan sebagai lahan korupsi yang diperebutkan banyak orang. Bahkan yang lebih ironis lagi ada pemimpin lembaga pemantau korupsi yang justru korup, ada pemimpin lembaga penyedia pangan yang justru menyelinepkan makanan rakyat, ada pemimpin agama yang justru menginjak-injak nilai-nilai luhur agama, ada pejabat kepolisian yang justru ditangkap lantaran korup dan sebagainya. Sosok pemimpin amanah dan sederhana seperti Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Natsir, menjadi makhluk yang amat langka di negeri kita sekarang ini.

Kekayaan dan kemewahan serta keserakahan seolah menjadi seragam wajib bagi para pemimpin masa kini. Sementara pada saat yang sama, rakyat seolah sah-sah saja dibiarkan menjadi makhluk yang sengsara dan melarat akibat penderitaan. Ironisnya, sistem pemerintahan yang bergaunkan kapitalis sekularisme sekarang ini justru kian memperparah iklim yang tidak kondusif bagi munculnya kader pemimpin yang ideal. Sistem ini telah menghadirkan kesenjangan di tanah air kita, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Lalu model kepempinan seperti apa yang ideal untuk mengatasi krisisnya kepemimpinan Indonesia saat ini?


Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat jibril untuk mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya (terkait perakara akidah dan ibadah), manusia dengan dirinya sendiri (terkait perkara akhlak, makanan, dan pakaian), dan mengatur manusia dengan sesamanya (terkait perkara muamalah). Denga demikian islam merupakan peraturan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari aspek ekonomi, social, budaya, politik, pendidikan, pemerintahan, hingga ke aspek hukum.

Salah satu faktor penyebab utama krisisnya kepemimpinan nasional yaitu tidak diterapkannya peraturan islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga hal ini memicu munculnya pemimpin yang tidak bernafaskan islam, pemimpin yang tidak melandaskan al-qur’an dan as-sunah sebagai pedoman kepemimpinannya, dan pemimpin yang memisahkan antara agama dan kehiduan (Idologi kapitalisme).

Untuk melahirkan kembali para pemimpin amanah yang diridhoi Allah Swt, maka perlunya pendidikan karakter yang berasaskan islam sehingga akan memunculkan generasi khaira ummah seperti digambarkan dalam surah ali imran ayat 110 yaitu suatu generasi terbaik yang melaksanakan pada yang makruf dan mencegah pada yang mungkar dan beriman kepada Allah. Suatu generasi yang nantinya diharapkan mampu menjadi pemimpin yang amanah dengan meneladani sifat kepemimpinan Rasulullah.

Menurut Prof. Laode M. Kamaluddin dan A. Mujib El Shirazy bahwa terdapat lima rumus dahsyat untuk menjadi umat terbaik (khaira ummah) yaitu pertama, agar menjadi yang terbaik  maka perlunya untuk meneladani umat terbaik pula. Kedua,membangun umat terbaik dengan bermodal iman dan takwa kepada Allah tanpa tawar. Ketiga, mengutamakan ilmu sebelum amal. Keempat, menjadi umat terbaik dengan amal dan karya. Kelima membangun umat terbaikdengan berjamaah.

Dengan demikian, untuk menghadirkan pemimpin ideal nan amanah di tengah krisisnya kepemimimpinan nasional maka sangat perlunya dibangun sistem pendidikan yang berkarakterkan islam ( sistem pendidikan Rasulullah) yang memiliki tujuan untuk melahirkan insan berjiwa takwa dan insan yang sanggup bekerja sebagai khalifah (pemimpin). Bukan insan yang mampu mementingkan pribadinya, mengesampingkan rakyatnya, dan bukan pula insan yang tidak pernah peduli terhadap rakyatnya yang tengah tertimpa musibah.

Akhir-akhir ini, mulai bermunculan tokoh nasional yang berusaha untuk menarik simpati rakyatnya, memperbaiki citra partainya. Namun ada pula tokoh atau pemimpin yang dengan ikhlasnya peduli akan nasib rakyatnya. Hal ini diperlihatkan oleh  pasangan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, Jokowi-Ahok. Sehingga tak heran bila Andrinov Chaniago, seorang pengamat kebijakan public, mengatakan “cara kerja Jokowi (perlu) kita rekonstrusi (dan) akan menghasilkan sebuah model pemerintahan yang bisa dicontoh oleh daerah-daerah lain, bahkan oleh Negara-negara lain.” Beberapa sikap Jokowi yang memiliki kemiripan dengan sikap Rasululah yaitu beliau selalu bersama rakyatnya dan merasakan penderitaan rakyatnya. Selain itu, beliau juga tidak hanya memberi arahan atau membimbing dari balik meja, namun juga terjun langsung ke lapangan. Terlalu naïf apabila mengatakan Jokowi sesempurna Rasulullah, namun masyarakat sangat merindukan sosok pemimpin rendah hati yang dapat meluangkan waktunya hanya sekedar untuk bertemu, menyapa dan bercengkarama dengan rakyatnya. Kita semua tentunya berharap Jokowi tetap menjaga sikap dan gaya kepemimpinannya itu, meskipun banyak cibiran datang, namun Jokowi bisa meniru sikap Rasulullah yang tetap mencintai siapapun baik yang membencinya maupun yang mendukungnya, tanpa bermaksud mengandung muatan unsur politis, semoga banyak bermunculan Jokowi Jokowi lain di negeri ini yang berkaca pada gaya kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW sehingga mampu menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Jadi ketika muncul pertanyaan tentang siapa figur pemimpin ideal ditengah krisisnya kepempinan nasional, maka jawaban yang akan muncul pula adalah mereka yang mampu mengemban amanah rakyatnya, mereka yang selalu hidup bersama rakyatnya, mereka pula yang berusaha menerapkan sebuah sistem hukum yang meneladani model kepemimpinan Rasulullah, yaitu model kepemimpinan yang berlandaskan pada aturan Allah yang telah membuktikan kepada dunia dengan peradabannya dan mampu melahirkan para cendekiawan muslim yang ahli dibidangnya. 

#tulisan ini adalah isi dari pengajuan makalah sebagai syarat mengikuti LK II HMI Cabang Semarang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar